Sudah lama rena menantikan masa-masa untuk masuk SMA dengan
pakaian putih-abunya. Masa-masa dimana semuanya paling indah katanya. Gimana
engga, semuanya itu nano-nano pada masa SMA, ada jayusnya, ada tengilnya, ada
sok gaulnya dan pastinya sedikit aneh, maklum lah kan masih cupu karena bawaan
masa SMP. Rena harus bangga karena kini ia telah bisa masuk SMA ternama dan
bahkan terfavorit di Jakarta tersebut, bersama salah satu sahabatnya yang juga
adalah tetangga rena sendiri yaitu sharra. Rena dan sharra sudah seperti
adik-kakak, sejak kecil mereka selalu bermain bersama, kedua orangtua mereka
pun sudah sangat dekat sekali, tak heran
jika teman-teman satu kompleknya yang sudah mengenal rena dan sharra
selalu mengejeknya, dimana ada rena pasti selalu ada sharra begitupun
sebaliknya dimana ada sharra pasti selalu ada rena di sampingnya. Rena dan
sharra sudah seperti pasangan sehidup semati saja, maka dari itu, keduanya
sangat bersyukur ketika kembali di pertemukan di SMA yang sama.
Esok adalah hari dimana seharusnya rena memasuki masa-masa SMA
pertama kali, namun terpaksa rena harus berangkat sendiri tanpa sharra kali itu,
di karenakan sharra yang sedang sakit flu membuatnya harus beristirahat total.
Awalnya rena ragu untuk pergi ke sekolah sendirian di hari pertama karena
sebenarnya, masalahnya adalah rena engga tau letak kelasnya dimana. Rena dan
sharra saat itu engga mengikuti mos sama sekali. Soalnya, rena dan sharra malah
liburan bareng orangtua masing-masing. Makanya, awalnya mereka berdua berniat
pergi bareng untuk mengecek kelas. Eh, jadinya malah rena sendiri.
Sesampainya di sekolah, tepatnya rena yang baru saja di turunkan
oleh mobil papanya di depan pagar halaman sekolahnya malah bingung dan menjadi
tak bersemangat sama sekali untuk sekolah. Namun ia terus melangkahkan kakinya
ke dalam sekolah dengan penuh percaya diri bahwa ia akan menemukan kelasnya,
dengan langkah pelan-pelan dan sambil celingak-celinguk ia segera mencari
ruangan tempat dimana kelas 10-3 berada. Sesekali langkahnya terhenti dan
menegakkan kepalanya ke atas papan yang tertera di depan kelas apakah itu
ruangannya. Namun, setelah kurang lebih 10 menit berlalu ia tak kunjung
menemukan dimana kelasnya berada juga.
***
Di pagi hari yang sama, di sekolah itu.
“ woy! Tama!” sapa bayu sambil merangkul tubuh tinggi tama. Bayu
ini adalah sahabat tama sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, namun ketika itu
tama harus pindah sekolah membuat tama dan bayu harus berpisah dan kemudian
kembali di pertemukan di SMA lagi.
Refleks tama
segera melepaskan rangkulan bayu, “eh, elo bay aduh apa-apaan sih ntr kalau
kita di bilang homo gimana?”
“wah gile lo yee, gue masih waras Cuma gue kangen aje sama lo
kan kita 2 minggu engga ketemu” ujar bayu dengan nada betawinya
“ih amit-amit deh mending kagak ketemu lo dari pada harus ketemu
lo, remponggg booo” sahut tama sambil bergaya sok bencong
Bayu pun tergelak.
“lagian gue kan pas kemarin liburan kenaikan kelas ada event di
luar kota, maklum sibuk kan gue bay” lanjut tama sambil memainkan handphonenya
“alah sok sibuk lo, kata bayu dengan sinisnya, yang justru malah
membuat tama tergelak. “eh kita kan sekelas lagi yah tam di kels 11ipa3, kelas
kita di samping anak 10-3 gituh deh di pojokan”
Tama mengehela nafas dan mengelus-ngelus dadanya, “huh gue kira
bakalan sekelas sama cewek-cewek cantik tau nya sama lo lagi, makin di bilang
homo deh gue!”
“sabar yah kayaknya emang bener deh kita itu jodoh tam, di
lapangan basket ajah pak wira men’cap kita sebagai pasangan emas, semoga kita
langgeng yah tam” ujar bayu dengan lebay nya
Tama langsung bergaya muntah-muntah. “idih amit-amit deh bay gue
mau sama lo bisa-bisa seisi dunia runtuh nih, udah ah mendingan kita ke kelas
ajah”
Baru saja akan melangkahkan kaki masuk menuju kelas yang mereka
berdua tuju, tiba-tiba seorang cewek berambut panjang yang sedang mengetik
handphone nya menyenggol tubuh tama sampai-sampai tubuhnya bergeser sedikit ke
samping. Tanpa permisi cewek itu menyenggolnya dengan cuek, ternyata ia adalah
rena cewek yang sedang mencari kelasnya itu. Lalu tanpa kata maaf rena pun
meneruskan langkahnya untuk mencari kelas yang ia cari. Tak terima karena rena
menyenggolnya, tama pun menggerutu kepada bayu yang saat itu sedang asyik
memainkan psp nya,
“gila yah tuh cewek nyenggol gue tanpa kata maaf pula, kayaknya
sih tuh anak baru makanya engga tau siapa gue. Ya gak bay?”
Kali ini bayu malah ketawa ngakak, “hmm samperin aja yuk tam,
noh mumpung orangnya belum jauh”
Tanpa pikir panjang tama dan bayu pun berjalan ke arah rena dan memaksa nya untuk meminta maaf. Rena
yang awalnya tidak terima dengan sikap tama yang seenaknya saja memaksanya
untuk meminta maaf malah luluh di buat tama setelah rena menatap matanya, “cakep
juga yah nih orang, lebih baik gue minta maaf ajah deh” pikirnya dalam hati.
Rena pun meminta maaf kepada cowok itu walaupun sedikit terpaksa, tama mulai
tersadar pasti cewek itu klpek-klepek melihat sosok tampan tama tersebut, sadar
akan hal itu tama pun menggunakan kesempatan itu untuk mendekati rena, namun di
saat tama ingin mengenal rena lebih jauh rena sudah keburu menghilang entah
kemana.
Seminggu kemudian di saat tim basket sekolah sedang mengadakan
pertandingan semuanya ribut membicarakan hal itu, membuat rena penasaran dan mengajak
sharra sepulang sekolah nanti untuk ikut menonton pertandingan basket, sharra
yang awalnya enggan untuk menonton namun berkat paksaan rena, ia pun terpaksa
menggelengkan kepalanya untuk berkata iya.
Lonceng sekolah berbunyi dengan nyaringnya pertanda jam
pelajaran terkahir telah usai dan waktunya untuk pulang. Rena pun dengan sigap
segera memasukan semua buku kedalam tasnya, dan ketika sang guru sudah
meninggalkan kelasnya, rena cepat-cepat menarik lengan sharra ke lapangan
basket indoor sekolahnya itu. Sesampainya di lapangan basket indoor Pertandingan
telah di mulai namun rena dan sharra tak menemukan tempat duduk yang kosong
sedikit pun di bangku penonton akhirnya rena pun mengajak sharra untuk duduk di
pinggir lapangan tempat anak-anak basket nanti beristirahat. Tepuk tangan riuh
mengiringi sosok tama sang kapten tim basket yang lagi-lagi berhasil memasukan
bola ke dalam backstate nya itu. Dengan bersemangatnya rena langsung
menceritakan bahwa tama lah yang membuat ia terpikat di saat ia menyuruhnya dengan
paksa mengatakan kata maaf. Sharra yang cukup bingung dengan sikap sahabatnya
itu hanya bisa mendengarkan dengan tenang.
Pertandingan telah usai, tama dan rekan-rekan tim basketnya pun
segera berlari kepinggir lapangan untuk beristirahat sejenak, rena yang menjadi
salting karena tama sedang berjalan ke arahnya mencoba untuk tenang, ternyata
tama memulai percakapan terlebih dahulu.
“loh lo kan yang waktu itu, gimana aksi gue keren kan?” seru
tama dengan bangganya
Rena yang masih bingung menjawab apa, “hmmm iya keren” jawabnya
dengan singkat
“ouh iya kita kan belum kenalan yah, kenalin gue tama dan ini sohib gue bayu” tama pun mendonorkan
lengannya ke arah rena
“ouh iya gue rena dan ini sahabat gue sharra”
Akhirnya perkenalan antara rena dan tama pun berlanjut sampai
mereka dekat, rena sangat menyukai tama, namun tama tak ada perasaan sedikit
pun untuk rena. Bagi tama, rena sama saja dengan cewek lainnya yang akan ia
permainkan dan di gantung begitu saja. Mengetahui sikap sahabatnya tama yang
sering mempermainkan cewek begitu saja, membuat bayu kali ini mulai melirik
rena karena merasa kasihan dengan gadis polos yang satu ini. Dengan berbagai
cara bayu mencoba meyakinkan rena tentang sosok tama yang sesungguhnya, tak
henti sampai disitu bayu pun mencoba menasihati tama kala itu,
“lo yakin akan ngelakuin hal yang sama, sama cewek ini?”
tanyanya.
“rena maksut lo?”
“iya, siapa lagi.”
“yaiyalah, lo kan udah tau gue bay, emang kenapa sih tumben lo
Tanya-tanya gini.” gantian tama penasaran
“hmmm,,, engga apa-apa sih Cuma gue ngerasa kasian aja sama rena
kayaknya dia beda sama yang lain deh tam,”
“bedanya?” Tanya tama dengan penuh penasaran
“beda ajah, ah yaudah lah engga usah di bahas, gue Cuma mau
ngingetin lo ajah supaya hati-hati krena rena itu korban lo yang ke 30 dan lo suka banget
sama angka 30 takutnya lo kena karma dari rena, karena keliatannya rena cewek
baik dan polos” jelas bayu yang agak ngasal
Kali ini tama tertawa ngakak mendengar sahabatnya berkata
seperti itu, “lo bisa ajah dahhh bay, yaudah ok gue terima saran lo dan gue
inget-inget dahh”
“yeee gue serius tau tam”
Masih belum puas dengan jawaban yang di berikan oleh tama,
karena bayu yakin tama bukan orang yang menyerah begitu saja untuk lebih
membuat rena jatuh klepek-klepek di hadapannya seperti cewek-cewek lain, bayu
pun segera menemui sharra salah satu sahabat rena yang kali itu sedang
mendengarkan mp3 nya di taman sekolah yang sejuk. Tanpa basa-basi lagi bayu pun
langsung mengutarakan maksut tujuannya bertemu dengan sharra tersebut dan menceritakan
bagaimana sebenarnya sikap asli seorang tama, sharra yang awalnya tidak mengerti
mengapa bayu sahabat tama sendiri yang malah berbicara dan memperingatinya sendiri
seperti itu, pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya pun muncul,
“tunggu, tunggu kenapa lo memperingati gue, kenapa engga ke rena
ajah langsung, dan lo kan sahabat baiknya tama banget kenapa lo bilang gituh?”
“gue udah coba beberapa kali untuk memperingati rena Cuma dia
engga percaya sama gue, bahkan gue udah peringatin tama juga, gue tau mungkin
gue bukan sahabat yang baik Cuma gue pengen liat tama berubah ajah engga mainin
perasaan cewek lagih, itu ajah kok” jelas bayu berusaha meyakinkan sharra yang
masih kebingungan.
“hmmm yakin Cuma kasian sama rena, suka yahhh sama rena?” sahut
sharra asal,
Bayu yang bingung akan menjawab pertanyaan sharra tadi berpikir
cukup lama, karena memang sebenarnya bayu menyukai rena semenjak rena dekat
dengan tama, maka dari itu bayu kasian kepada rena dan tidak ingin jika rena
menjadi korban permainan sahabatnya itu.
“hey”
“hah?, dengan kagetnya bayu tersadar
“nah lo kenapa? Kesambet, yaudah ok ok gue akan mencoba bilang
sama rena yah, makasih udah meringetin”
jawab sharra sambil beranjak dari duduknya dan meninggalkan bayu yang
masih terdiam
Sharra pun segera mencari rena sahabatnya itu mencoba mengatakan
apa yang baru saja ia dengar dari bayu, namun rena sama sekali tak ia temukan
saat jam istirahat berlangsung sampai akhirnya bel masuk berbunyi, sharra
segera masuk ke dalam kelas dan bermaskut untuk menunggu rena dalam kelas.
Melihat rena yang baru saja datang dari pintu luar dan segera duduk di
sampingnya, sebenarnya untuk mengatakan hal ini sangat berat untuk sharra, di
satu sisi ia tidak mau menggangu kesenangannya dengan tama, karena sharra tau
rena sangat menyukai dan mengagumi tama namun jika sharra tidak mengatakan dari
sekarang, kapan rena akan tahu? Setelah nanti ia merasakan sakit hati? Lebih
baik sakit hati dari sekarang daripada nanti, pikinya dalam hati.
Setelah sharra berbicara panjang lebar tentang bagaimana sosok
tama yang sebenarnya, rena malah tertawa dan merasa aneh,
“lo kenapa sih kok kayaknya omongan lo sama kayak bayu beberapa
hari yang lalu”
“ya itu dia ren gue tau hal ini dari bayu”
Merasa heran dengan semua omongan ngaco sahabatnya itu, rena
hanya mendengarkan dari kuping kiri dan ia keluarkan dari kuping kanan saja.
Setidaknya sharra lega bahwa ia telah mengatakan hal ini kepada sahabatnya itu,
bagaimana nanti itu adalah keputusan dari rena sendiri mau percaya atau tidak
karena yang jelas sharra sudah memperingatinya.
Seminggu kemudian rena mempertanyakan status hubungannya kepada
tama karena semua teman-teman di kelasnya selalu bertanya apa status
hubungannya dengan tama, karena setau rena tama tidak pernah menyatakan cinta
kepadanya, apalagi meminta rena untuk menjadi pacarnya, mendengar perkataan
rena yang ada tama hanya tertawa dan menjawab ngasal,
“yah kita Cuma temenan lahh,”
Rena yang menjawab ucapan tama dengan sedikit harapan namun
nampaknya hanya sia-sia saja, sampai akhirnya mungkin rena sadar bahwa memang
benar jika tama hanya menganggapnya teman saja, rena pun tak memikirkan hal itu
kembali dan mencoba berpikiran seperti biasa kembali.
Setelah kejadian itu, tama semakmin menjauh dari rena, dengan
bingung rena mencoba bertanya kepada tama, namun ketika rena mencoba menemui
tama kali itu yang sedang berada di parkiran, rena melihat tama yang sedang
memeluk cewek lain dengan penuh kasih sayang sambil mengelus rambut panjang
cewek tersebut, rena memang tiak tahu siapa cewek yang sedang berasama tama
kali itu, apakah pacarnya atau bukan namun yang jelas pasti itu adalah kekasih
tama, betapa hancurnya perasaan rena saat itu, tama yang sudah membuat ia
melayang bagaikan di udara, membuat ia merasakan jatuh cinta, membuat rena
tergila-gila kepada tama namun tama malah membuat rena hancur dengan harapan yang selalu di berikan oleh tama. Ternyata
benar perkataan bayu dan sharra kali itu, rena merasa sangat malu sekali karena
sedikit pun ia tidak memperdulikan omongan bayu bahkan sharra sahabatnya
sendiri.
Rena pun bertekad untuk menemui sharra terlebih dahulu untuk
meminta maaf kepada sharra, sharra yang sudah bersikap biasa saja dan malah
senang bahwa sekarang rena tau bagaimana sosok tama yang sebenarnya,
“ren udah yah jangan sedih yah, gue emang dari awal engga pernah
setuju. Sekarang lo harus berterimakasih sama bayu tuh, tapi kalau di
pikir-pikir dia suka deh ren sama lo”
Rena yang hanya bisa tersenyum ke arah sharra sambil mengelap
air matanya itu, malah tertawa dan lagi-lagi berterimakasih, “yaudah deh sharr
kayaknya gue mau cari bayu dulu”
Rena pun mencari bayu di lapangan basket indoor sekolahnya,
ternyata benar bayu sedang berada di sana sambil melihat teman-teman satu
timnya yang sedang latihan basket, rena pun mengejutkan bayu sambil menepuk
punggung bayu tersebut dan langsung mengutarakan maksut tujuannya datang kepada
bayu, bayu malah senang dan terlintas dalam pikirnya bahwa mungkin ini adalah
kesempatan untuk bisa dekat dengan rena, kebetulan sekali di saat rena sedang
sedih mungkin ia bisa menyembuhkan luka dalam hatinya, yah mungkin ini sebagian
dari takdir tuhan, betapa senangnya bayu kali itu.
1 bulan kemudian, bayu dekat dengan rena. Sudah terlalu lama ia
dekat dengan rena, sudah cukup rasanya waktu untuk mengenal rena, karena yang
penting ia tulus menyanyangi rena, bayu pun mengungkapkan perasaannya kepada
rena kali itu, namun jawaban rena belum pasti karena rena hanya meminta waktu
kala itu, bayu pun bersabar untuk menunggu jawaban rena.
Saat bayu dan rena mulai dekat, tama datang dengan kesalnya
kepada bayu sambil melemparkan bola basket yang kala itu sedang di pegang oleh
tama,
“wihh kenapa lo bro?”
“siall bay, baru x ini gue di permainin sama cewek, lo tau kan
cewek yang bernama cinta kemarin masa iah dia ngebuang gue gituh aja, emang gue
gak suka sama dia Cuma ini engga sesuai sama scenario masa ia gue yang di
mainin sama cewek” jelas tama dengan kesalnya
Bayu pun hanya tertawa cengengesan mendengar penjelasan tama
barusan,
Keesokan harinya ketika rena dan bayu sedang mengobrol-ngobrol
di kantin sekolah bersama saharra juga, tanpa pernah di duga tama datang dengan
membawakan segelas air mineral untuk rena dan dia sendiri tanpa tama sadar
bahwa kali itu sahabatnya bayu sedang dekat dengan rena, tama pun langsung
mendekat di samping rena, dan mencoba mengakrabkan diri dengan yang lain, namun
karena anehnya bayu, rena dan sharra hanya terdiam ketika tama datang. Melihat
tampang bayu yang begitu melas, rena pun langsung memulai pembicaraan berusaha
mengasyikan kembali suasana, betapa herannya bayu kali itu, pasti ada udang di
balik batu rasanya, namun bayu tak mau berpikir panjang dan aneh-aneh, mungkin
saja tama hanya ingin meminta maaf dan sadar akan perbuatan yang ia lakukan
kepada rena kala itu salah karena bayu teringat ucapan tama kemarin di saat ia
sedang kesal.
Sharra yang sama sekali tak suka dengan sikap tama yang
sepertinya kembali ingin merebut perhatian dari rena cepat-cepat tersadar dan
bertekad untuk menemui tama sepulang sekolah nanti.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu para siswa pun tiba,
lonceng pertanda pulang sekolah pun berbunyi dengan kerasnya, sharra yang
beralasan untuk pura-pura pergi ke kamar mandi dan menyuruh rena untuk
menunggunya di depan sekolah malah membalikan arahnya ke arah lapangan basket
indoor sekolahnya dan menemui tama, ternyata di lapangan itu tama sedang
mengobrol bersama bayu, sharra pun datang dan langsung menarik tama ke jarak
yang berjauhan denga bayu seakan bayu tak boleh mendengarnya, bayu pun relaks
dan kembali mendrible bola basket yang sedang ia pegang itu,
“apa-apaan sih lo sharr? “
“heh gue peringetin dan gue kasih tau yah sama lo tama adiguna
yang sok keren dan kecakepan sebaiknya lo jangan pernah deketin rena lagi, bayu
emang sahabat lo yang paling baik yah engga pernah ngomong hal ini sama lo”
Tama yang bingung kemana arah pembicaraan sharra, “maksut lo apa
sih sumpah deh gue engga ngerti sama sekali”
“lo emang bodoh tam, bayu itu suka sama rena dan di saat lo
berhasil mainin rena dan pergi begitu ajah bayu hadir dalam kehidupan rena
berharap ia menjadi pacar rena, namun rena masih menyukai lo, dan gue engga
akan pernah ngebiarin kalau lo mau ngerusak hubungan mereka berdua, lo inget
sahabat lo bayu ajah sekarang” jelas sharra sambil pergi meninggalkan tama yang
masih berdiri di tengah lapangan
Tama yang kala itu masih terdiam berpikir sejenak, tiba-tiba
tersadar ketika suatu hantaman bola basket baru saja mengenai kepalanya itu,
sakit rasanya namun seorang cowok engga akan mengeluh di hadapan
teman-temannya, bisa-bisa jatuh donk harga dirinya. Bayu yang terlihat sangat
khawatir dengan sigap nya mendekat ke arah tama, dan mencoba memberikan
perhatian,
“lo apa-apaan sih bay, emang gue anak kecil,” tama yang sedikit
marah dengan perlakuan bayu yang dianggapnya terlalu lebay kemudian mencoba
berdiri dan duduk di pinggir lapangan
“aduh sorry deh, gue Cuma takut lo kenapa-kenapa ajah tam”
sahutnya sambil bercanda,
Tama yang melirik ke arah bayu cukup lama seakan berpikir betapa
bodohnya dirinya jika harus menyakiti hati seorang bayu sahabatnya yang sudah
cukup baik terhadapnya hanya karena akan mementingkan keegoisannya saja. Tama
pun lekas meminta maaf kepadanya bayu dan menjelaskan apa yang baru saja ia
ketahui dari sharra, tama berjanji akan membantu bayu untuk bisa mendapatkan rena.
Malam itu hujan telah turun dengan derasnya, menyurutkan niat
tama saja yang akan pergi menemui rena di rumahnya. Setengah jam berlalu hujan
telah berhenti turun, tama pun segera menancapkan gas dengan kencang menemui
rena. Rena yang kaget dengan kedatangan tama malam hari kala itu malah di
buatnya salting, namun dengan singkatnya tama menjelaskan bahwa bayu sangat
menyayangi rena sekaligus tama ingin meminta maaf karena kemarin-kemarin ia
telah menyakiti perasaan rena, tama hanya ingin rena menjadi temannya lagi
tanpa menganggapnya musuh. Usai mengatakan hal itu ia pun segera menancapkan
gasnya dan kembali pulang.
Cukup satu malam untuk rena berpikir logis dan keesokan harinya
ia mengumpulkan sahabatnya sharra, tama beserta bayu di taman sekolah, hanya
untuk mengetahui bahwa ia sekarang sudah memaafkan tama, dan kabar baiknya
bahwa ia menerima cinta bayu. Bayu yang masih tidak percaya dengan apa yang
rena katakan, mendengar bisikan dari tama sahabatnya, “udah sanah gih peluk dia
bay, haha”
Bayu pun menerima saran dari tama, dan memegang tangan rena
dengan erat. Sharra dan tama yang melihat hal itu sangat senang, dan kali ini
giliran tama untuk meminta maaf sekaligus berterimakasih kepada sharra bahwa
berkat dia tama sadar bahwa bayu sahabatnya menyukai rena,
“makanya lain kali jangan playboy jadi cowok” sahut sharra
sambil tertawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar